Sunday, October 21, 2018

Hubungan Antara Gempa Palu, Sigi dan Donggala dengan Perilaku Seks Menyimpang Warga Setempat

Berdasarkan teori fisika gempa bumi di sebabkan adanya patahan di mana volume batuan dalam skala besar mengalami diskontinuitas. Akibat diskontinuitas ini antara volume batuan tadi terbagi menjadi dua buah pelat tektonik yang mengalami gerak relatif satu sama lain dengan arah berlawanan. Gerak antara dua buah bidang permukaan mengakibatkan dua kemungkinan yakni ada gesekan atau tidak. Pada pelat tektonik, adanya gesekan lama kelamaan mengakibatkan pergerakan lanjutan dari dua buah pelat terhambat atau terkunci. Namun karena ada desakan terus menerus maka hambatan tadi akan terlepas dan ini yang menghasilkan pelepasan energi dalam skala besar yang termanifestasi ke dalam wujud gempa bumi. Hal ini bisa dianalogikan dengan kasus ketika kita mendorong meja di lantai yang licin, tentu mejanya akan terdorong dengan mudah. Namun bagaimana jika di lantai tadi tiba tiba dipasang polisi tidur, tentu kita akan terhambat mendorongnya. Dan kita perlu energi tambahan untuk mendorongnya, sehingga begitu polisi tidurnya terlewati maka mejanya meluncur dengan cepat.


Jika pusat (hiposenter) dari gempa berada di bawah permukaan laut, maka energi gempa tadi akan memindahkan atau menggeser sebagian dari dasar laut (seabed), yang berakibat volume air di atasnya akan berpindah juga dan inilah yang menjadi pemicu sunami. Sementara pada daratan, gempa di samping meluluhlantahkan bangunan yang ada, terdapat pula fenomena lain yakni likuifaksi di mana tanah yang semula keras berubah sifatnya menjadi cair. Pada kasus gempa Palu, justru bencana likuifaksi ini yang paling banyak memakan korban. Hipotesis yang beredar bahwa di daerah yang mengalami likuifaksi ini yakni kelurahan Petobo dan Balaroa terdapat tingkat kejenuhan yang tinggi pada lapisan tanah karena terlalu banyak menampung air sehingga ketika terjadi gempa goyangan pada lapisan tanah mengakibatkan kantong-kantong air dalam tanah tadi bercampur baur dengan tanah di sekitarnya sehingga membentuk lumpur. Misalnya saja di daerah Petobo di mana awal mula likuifaksi terletak pada saluran irigasi yang berada di hulu dan seterusnya hingga ke bawah sampai ke jalan Dewi Sartika. Jadi rembesan air yang mengalir di irigasi tadi memenuhi lapisan bawah dari tanah di Petobo sehingga membuatnya tidak stabil dan rentan likuifaksi atau longsor. Hal ini kemudian diperparah oleh topografi lembah palu sendiri yang membentuk lereng. Mulai dari muara sungai Palu di jembatan empat yang roboh itu hingga ke hulu di daerah kulawi semuanya berawal dari kaki pegunungan dan menurun hingga ke pinggir sungai jadi tidak sepenuhnya dataran rendah. Sementara daerah Balaroa tepat berada di kaki gunung Gawalise di mana tingkat kemiringan kawasan ini boleh dibilang cukup tinggi. Beberapa daerah lainnya misalnya di desa Jono Oge juga terdapat fenomena serupa bahkan di desa ini justru area yang mengalami likuifaksi lebih luas dibandingkan dengan dua area sebelumnya kendatipun jumlah korban jiwa yang ditimbulkan tidak begitu besar.


Sampai saat ini proses evakuasi terhadap korban terus dilangsungkan, kendatipun berdasarkan SOP dari BNPB, proses evakuasi hanya dilangsungkan maksimal dua minggu dengan perhitungan bahwa lebih dari jangka waktu tersebut korban yang tertimbun sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Selanjutnya berdasarkan keputusan para pihak yang berkepentingan, kedua kawasan ini yakni Balaroa dan Petobo nantinya akan dijadikan monumen likuifaksi yang mirip monumen sunami SPBU apung di Aceh. Tentu ini sebuah ironi mengingat situasi Petobo dan Balaroa yang berada di tengah kota yang pasti berbeda dengan situasi perkampungan terpencil di lereng pegunungan misalnya, yang akan sangat aneh jika dibiarkan masih berupa gundukan tanah yang menampung korban-korban bencana likuifaksi. Bukankah lebih baik dan lebih terhormat jika mayat-mayat para korban tersebut dievakuasi dulu kemudian tanah-tanah yang menjadi gundukan yang bercampur dengan rumah-rumah dipindahkan ke luar kota. Tentu ini akan memakan biaya yang tidak sedikit mengingat posisi Palu sendiri hanya merupakan sebuah ibukota provinsi kecil di Indonesia. Tapi jika dibandingkan dengan biaya yang dihabiskan dalam proyek abadi perbaikan longsor jalur kebun kopi yang menghubungkan Tawaili dan Toboli yang sejak saya masih kecil hingga saat ini tidak ada habisnya, tentu proses evakuasi sampai tuntas terhadap korban likuifaksi Petobo-Balaroa bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Posisi Balaroa sendiri tidak jauh dari Pasar Impres, yang merupakan pasar sentral terbesar di Sulawesi Tengah. Bagaimana ini akan menjadi daya tarik wisatawan sementara tidak jauh dari lokasi ini terdapat timbunan mayat dengan berbagai posisi akibat mati konyol tertimbun tanah. Apakah para pencicip kuliner di Pasar Inpres tidak akan mencium aroma angker hantu-hantu bergentayangan yang minta diperlakukan secara wajar. Bagaimana para turis bisa menikmati pemandangan di inpres jika ada saja suara-suara halus di telinga mereka, atau bahkan adanya orang-orang kesurupan akibat kerasukan roh-roh para korban bencana likuifaksi yang ingin diperlakukan secara adil. Jika kita bandingkan situasi di Balaroa pasti tidak akan berbeda dengan situasi pada monumen kekejaman Pol pot di vietnam, di mana kendatipun di situ sering didatangi wisatawan, namun kesan yang didapatkan jauh dari kesan keceriaan layaknya situs-situs wisata pada umumnya. Petobo sendiri merupakan daerah yang sekarang ini, sebelum bencana likuifaksi, sedang gencar-gencarnya diadakan pembangunan perumahan penduduk skala besar. Dan kawasan ini langsung terhubung dengan kawasan perumahan di Lasoani. Ada begitu banyak proyek perumahan yang sedang dibangun di sekitar kawasan ini. Hal yang pertama yang harus dibenahi adalah bagaimana menghubungkan kembali Jalan lingkar lasoani-petobo seperti sedia kala. Untuk itu timbunan tanah yang berada di sepanjang jalan H. M. Soeharto harus di bersihkan demikian pula gundukan tanah yang bercampur reruntuhan perumahan beserta mayat-mayat yang terkandung di dalamnya.


Dalam menanggapi bencana tersebut, beberapa kalangan banyak mengaitkan penyebabnya dari aspek non-fisis. Tepat pada hari terjadinya bencana tersebut sempat diadakan pembukaan festival tahunan Palu Nomoni yang dalam penyelenggaraannya dimasukkan beberapa ritual-ritual yang dianggap bernuansa syirik atau pagan. Dalam bahasa setempat ritual ini disebut balia, di mana sajian berupa makanan tradisional dan kepala binatang di letakkan di pinggir pantai dan dianggap sebagai bentuk penghormatan terhadap penguasa laut setempat. Sekilas ritual ini mirip ritual tabot di Bengkulu, namun berbeda dari segi tujuan penyelenggaraannya, di mana acara Tabot sendiri merupakan ritual yang diadakan untuk mengenang kematian cucu Nabi Muhammad Husein bin Ali di Karbala. Ritual balia murni merupakan ritual sisa-sisa kebudayaan animisme yang dihidupkan kembali demi menggiatkan bisnis pariwisata di kota Palu. Jadi dengan adanya festival ini maka akan disedot jumlah pengunjung tahunan di kota Palu yang tentu akan berdampak positif bagi perekonomian di kota ini. Namun karena adanya provokasi dari oknum-oknum tertentu khususnya ormas-ormas Islam semisal Jamaah Tabligh dan HTI maka semua pihak ikut-ikutan mengkambing hitamkan ritual gagasan Wakil Walikota Palu Sigit Purnomo Said (lebih dikenal sebagai Pasha Ungu) sebagai sumber datangnya bencana.

Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa bencana ini dikibatkan oleh perilaku amoral masyarakat setempat yang sudah sangat memprihatinkan. Konon kelurahan Petobo yang terkena dampak likuifaksi merupakan pusat perjudian di Kota Palu di mana para penjudi yang datang ke sana berasal dari berbagai daerah di Sulawesi bahkan ada yang berasal dari Jakarta dan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Di sini biasa diadakan festival sabung ayam atau lomba karapan sapi. Kendatipun kedua acara ini sifatnya hiburan semata tentu tidak akan lepas dari adanya unsur taruhan (judi) yang pasti dilakukan oleh orang-orang yang berkecimpung di situ. Dan jika judi sudah begitu marak maka bentuk kemaksiatan lain akan serta merta hadir di tempat itu. Misalnya penjualan minuman keras akan sangat mudah ditanyakan ke warga setempat. Di Petobo bahkan terdapat beberapa bisnis prostitusi yang berkedok sebagai panti pijat yang menawarkan jasa seks dengan beragam tarif.

Beberapa sumber mengatakan bahwa pergaulan bebas di kota Palu juga bukan hal yang tabu lagi. Para pelajar dan Mahasiswa di kota ini sudah sebegitu permisifnya dalam melakukan hubungan seksual. Hal ini bisa dengan mudah dibuktikan dengan mendatangi kos-kosan yang tersebar di berbagai tempat di Kota Palu, misalnya yang berada di Jalan Kancil, Anoa I, atau di kawasan R. E Martadinata Tondo. Perilaku seks pelajar dan mahasiswa sudah bukan lagi sebatas hubungan sepasang kekasih yang menjalin ikatan tanpa hubungan nikah, namun sudah mulai menjurus pada tindakan seks ekstrim misalnya pesta seks (orgy), pertukaran pasangan (swinger), dua lawan satu (threesome), menggilir wanita (gang bang), atau seks yang disertai dengan pesta sabu-sabu. Menurut pendapat warga, bukan hal yang sulit untuk mengajak kencan wanita di Kota Palu. Khususnya wanita suku Bugis yang dikenal sangat permisif dan berlibido tinggi. Yang kita perlukan hanyalah sebuah akun media sosial, sikap ramah dan pandai merayu, disertai dengan status sosial yang tidak memalukan. Minimal kita mempunyai kendaraan pribadi dan cukup uang untuk mengajak si wanitanya jalan, maka kita sudah bisa mendapatkan teman tidur atau bahkan pacar untuk berbulan-bulan yang bisa diajak berhubungan seksual setiap malam. Dan wanita di Kota Palu khususnya wanita suku Bugis (menyumbang 30 persen populasi kota Palu) bukanlah wanita yang mau diikat. Kendatipun sudah ditiduri, tidak lantas mereka mengejar-ngejar laki-laki untuk menuntut dijadikan isteri, mereka malahan mencari laki-laki lain hingga mereka mendapatkan laki-laki yang bisa memuaskan nafsu birahi mereka. Dan untuk ini, wanita suku Bugis rela memberikan apa saja baik itu uang dan harta bagi si laki-laki.

Seks di Kota Palu bukan hal yang mahal jika kita begitu jeli dalam mencari si wanitanya. Memang kawasan pelacuran di sini sudah ada yakni dikenal sebagai Tondo kiri, dan itu butuh tarif yang menguras kantong untuk sekali kencan. Namun pusat pelacuran ini hanya ditujukan bagi para pencari wisata seks. Tentu tidak ada orang yang tiap hari datang ke pelacuran, kecuali memang germo atau tukang pukul yang biasa mangkal di situ, karena pasti akan menghabiskan uang. Pada hakikatnya wanita-wanita bugis itu adalah wanita yang begitu murahannya bahkan terhadap orang yang baru dikenalnya. Hal ini mungkin dikarenakan faktor adat suku bugis sendiri yang konon biasa terlibat ritual pesugihan (disebut sebagai mattiro deceng). Orang-orang di Sulawesi semua tahu kalau suku bugis itu mempunyai uang yang banyak yang tercermin dari bangunan rumah yang mereka miliki. Jika penduduk setempat hanya berumah gubuk dengan atap rumbia, maka suku Bugis umumnya berumah beton dengan lantai sampai empat tingkat. Sementara pendapatan mereka sehari-hari hanya berdagang dengan pendapatan tidak seberapa karena pembeli juga jarang. Tentu ritual pesugihan bukan ritual main-main, karena kita sudah berurusan dengan alam non-material yang melibatkan kekuatan supranatural. Biasanya ada tumbal yang harus diserahkan dan ini adalah anak kandung kita sendiri. Pembaca bisa tanya ke suku Bugis, dan mereka pasti bercerita tentang adanya anak kandungnya yang sudah wafat. Logikanya ketimbang anak tadi mati diserahkan pada penguasa kegelapan, bukankah masih lebih manusiawi jika kita setubuhi sendiri? Dan dari sinilah kebejatannya berasal. Hampir pasti bahwa jika anda mendapati wanita suku Bugis yang cantik dan suka mentraktir anda makan, percayalah bahwa Ia sudah disetubuhi ayah kandungnya sendiri. Dan jika demikian bukan hal yang sulit untuk mengajak si wanita tadi untuk berhubungan seksual, mengingat seorang ayah yang menjadi panutan itu pula yang merenggut kehormatan. Dan si wanita tersebut sudah berfungsi sebagai pelacur keluarga, yang digilir oleh ayah kandung, kakak atau adik laki-laki, saudara-saudara sepupu, teman-teman di kampus atau siapapun yang disenanginya. Dan pembaca bisa membuktikan pernyataan ini jika lama tinggal di Sulawesi misalnya di Makassar, Palu, Kendari, atau kota-kota lainnya sampai kemudian mendapatkan jodoh baik itu pacar ataupun istri di sini dari suku Bugis.

Melamar gadis Bugis itu sama saja membeli kucing dalam karung. Anda harus pikir-pikir dulu karena pasti anda akan kecewa nantinya. Bisa dipastikan sebagaian besar wanita suku Bugis itu adalah wanita yang sudah kehilangan keperawanannya sejak dini. Kalopun anda dengan terpaksa melamarnya dengan biaya yang mahal, karena semua juga tahu melamar suku Bugis itu pasti butuh biaya mahal, Anda jangan marah dulu jika nanti istri yang didapatkan sudah tidak perawan ting-ting. Karena pasti ada kompensasi yang diberikan oleh pihak keluarga si wanita. Misalnya Anda juga bisa bersetubuh dengan mertua perempuan atau ipar perempuan Anda kalau mau. Dan sudah menjadi rahasia umum jika dalam sebuah keluarga Bugis itu pesta seks atau orgi itu adalah hal yang rutin diadakan. Di mana seorang suami, istri, ipar dan suaminya, ayah dan ibu mertua telanjang bareng untuk memuaskan nafsu birahi mereka dari malam sampai pagi.

Jika beruntung sebenarnya lebih bagus memacari wanita Bugis ketimbang menjadikan istri. Karena wanita itu sebenarnya tidak butuh dinikahi untuk disetubuhi. Mereka juga butuh kepuasan. Dan bagi si wanitanya, buat apa memperumit suatu tindakan yang justru menguntungkan bagi diri kita? Tapi umumnya karena adanya benturan budaya timur yang masih melekat di masyarakat setempat dan adanya pengawasan dari instansi tertentu atau ormas keagamaan, maka biasanya si wanita tidak begitu saja mau diajak berhubungan seksual. Sebagian dari mereka menuntut untuk dijadikan isteri, karena malu dengan teman yang juga banyak sudah menikah atau tidak enak saja dicap sebagai wanita tidak baik sementara mereka punya kedudukan tertentu di masyarakat. Jadi praktik seks bebas ini hanya menjadi rahasia umum yakni semua juga mempraktekannya namun tidak menyatakannya secara terbuka, hanya membatasi informasinya pada kalangan terdekat. Dan hal ini sudah berlangsung turun temurun sejak jaman kerajaan Gowa-Tallo pimpinan Sultan Hasanuddin. Jika pembaca pernah membaca buku sejarah kerajaan Makassar, pasti pernah mendengar sosok Syekh Yusuf Tuanta Salamaka yang harus lari ke Jawa bahkan dibuang ke Afrika Selatan karena tidak tahan melihat perilaku amoral di keraton kerajaan Makassar yang suka pesta seks dan miras yang sangat bertentangan dengan ajaran Islam yang dipahaminya. Jadi wanita suku Bugis akan memberikan apapun untuk laki-laki yang disenangi sepanjang laki-laki itu bisa memuaskan hasrat seksualnya. Berbeda dengan wanita dari suku Jawa misalnya yang lebih memilih sendiri atau menjadi pelacur ketimbang terikat dengan laki-laki yang perangainya tidak baik, karena mereka berpikir bahwa semua laki-laki juga butuh seks. Dan di era sosial media seperti sekarang ini perlahan tapi pasti tabir yang selama ini ditutup-tutupi mulai terkuak. Pembaca bisa memeriksa sendiri dengan berkelana di jejaring sosial bahwa wanita suku Bugis itu berlibido tinggi dan sangat mudah untuk diajak berhubungan seksual. Tidak peduli itu dosen di perguruan tinggi ternama atau mahasiswa cerdas dengan IPK tinggi, wanita suku Bugis itu tak kalah murahannya dengan cewek cabe-cabean yang bekerja yang sebagai pemulung di pinggir sungai yang kotor.

Di kota palu perilaku Suku Bugis yang permisif dan suka menyetubuhi anak kandung sendiri ini ternyata ditularkan ke penduduk setempat. Dan hal inilah yang menjadi biang kerok kerusakan moral di Kota Palu. Perkiraan kasar saya bahwa 70 persen wanita di Kota Palu adalah wanita yang pernah berhubungan seksual secara inces baik itu dengan ayah kandungnya sendiri ataupun saudara kandungnya, baik itu kakak atau adik. Termasuk yang terjadi di kawasan Balaroa atau Petobo. Berdasarkan data yang bisa dipercaya penduduk kelurahan Balaroa mayoritas adalah suku Bugis, yang sebagian bekerja sebagai pedagang kain dan tekstil di Pasar Inpres Manonda. Dan jika praktek inces jadi merebak di kawasan itu, bukankah hal yang masuk akal untuk mendeduksi bahwa bencana likuifaksi yang tidak terprediksi ini merupakan murka dari Tuhan yang sudah kehilangan kesabaran melihat perilaku bejat masyarakat setempat?

Saya berharap kedepannya bencana yang maha dahsyat ini tidak terulang lagi. Kendatipun semua pakar sudah memaklumi bahwa bencana likuifaksi rentan terjadi mengingat tekstur tanah dan topografi Kota Palu sendiri yang berpotensi untuk itu. Namun hal-hal lain semisal runtuhnya bangunan atau sunami bisa ditanggulangi dengan memperbaiki prasarana yang ada, misalnya dengan memenuhi syarat bangunan tahan gempa dan dengan menyediakan sensor peringatan sunami di sekitar pantai. Jadi dengan adanya pembenahan infrastruktur mestinya juga harus dibarengi dengan pembenahan moral dari masyarakat setempat. Sehingga kita berharap alam dapat bersahabat baik dengan kita. Wallahu A’lam Bishawab.

Sunday, July 1, 2018

Perbandingan Lama eksekusi perhitungan determinan matriks di MATLAB dengan beberapa metode

Dalam postingan kali ini saya akan memberikan contoh perbandingan perhitungan determinan matriks di MATLAB. Dalam menghitung determinan matriks ini saya gunakan tiga cara. Pertama dengan menggunakan metode eliminasi Gauss. Kedua dengan menggunakan metode ekspansi Laplace. Dan yang ketiga dengan menggunakan perintah built-in "det" di MATLAB, yang menurut informasi yang saya perolah juga dilakukan dengan menggunakan metode eliminasi Gauss.

Matriks yang akan dihitung determinannya adalah matriks persegi yang dibangkitkan secara acak oleh perintah "randi" di MATLAB. Sehingga kita bisa melihat berapa akurasi perhitungan antara ketiga metode ini beserta lama eksekusinya. Untuk keperluan tersebut, saya bagikan saja mi skripnya
function testLamaEksekusiDeterminanMatriks()
clear all; 
clc; 
% alokasi matriks persegi dengan bilangan integer acak
A = randi(320,6);
tic; 

% metode 1 dengan eliminasi gauss
hasil = A; % copy matriks, bukan reference
[m,n] = size(A); 
singularFlag = 0; 
for i=1:m
    % jika nilai elemen ke-(i,i) dari matriks hasil = 0, maka tukar
    % baris ke-i dengan baris di bawahnya yang nilai pada kolom
    % ke-i paling besar
    if hasil(i,i) ==0 
        for ii=i+1:m
            if hasil(ii,i)  > hasil(i,i)
                temp = hasil(i,:); 
                hasil(i,:) = hasil(i+1,:);
                hasil(i+1,:) = temp; 
            end
        end
    end
    
    if hasil(i,i) ~= 0
        % untuk setiap baris di bawah baris ke-i dari matriks hasil
        % bagi kolom ke-i nya dengan kolom ke-i pada baris ke-i
        % dan kalikan nilai ini untuk setiap kolom pada baris ke-i
        % di mulai dari kolom ke-i. Kurangkan nilai tiap kolom pada
        % baris di bawah baris ke-i dengan nilai ini di mulai
        % dari kolom ke-i nya.
        for ii=i+1:m
            temp = hasil(ii,i)/hasil(i,i);
            for j=i:n
                hasil(ii,j) = hasil(ii,j) - temp * hasil(i,j);
            end
        end
    else
        disp('matriks singular');
        singularFlag = 1;
    end
    if singularFlag
        break; 
    end
    
end


if ~ singularFlag 
    determinan = 1;
    % determinan matriks merupakan hasil perkalian elemen 
    % diagonal dari matriks hasil yang sudah dieliminasi
    for i=1:m
        determinan = determinan * hasil(i,i); 
    end
    disp(['nilai determinan = ' num2str(determinan)]);
end
disp(['waktu pengerjaan ', num2str(toc)]);

% metode 2, dengan ekspansi laplace
tic; 
determinan = laplaceExpansion(A);
disp(['nilai determinan = ' num2str(determinan)]);
disp(['waktu pengerjaan ', num2str(toc)]);

% metode 3, dengan perintah built in
tic; 
determinan = det(A);
disp(['nilai determinan = ' num2str(determinan)]);
disp(['waktu pengerjaan ', num2str(toc)]);


function x = laplaceExpansion(matriks)
[m,n]=size(matriks);
if m==1 && n == 1
    x = matriks(1,1); 
    return; 
end
x = 0;
for i=1:m
    baris = i; 
    kolom = 1;
    sign = (-1)^(baris+ kolom);
    x = x + (sign * matriks(i,1) *  ...
        laplaceExpansion(removeRowColumn(matriks,i,1)) ); 
        % rekursi
end

% hapus baris ke-ii dan kolom ke-jj dari matriks input
function hasil = removeRowColumn(matriks, ii, jj)
[m,n]=size(matriks); 
hasil = zeros(m-1,n-1); 
c = 1;
for i=1:m
    if i~=ii
        d = 1;
        for j=1:n
            if j~= jj
                hasil(c,d) = matriks(i,j); 
                d = d +1;
            end
        end
        c = c + 1; 
    end
end

Dalam skrip di atas terlihat bahwa yang pertama diuji adalah metode eliminasi Gausss, kemudian metode ekspansi Laplace, dan yang ketiga perintah built-in di MATLAB. Saya kemudian mencoba matriks dengan beberapa ukuran untuk mengukur ketiga metode tersebut. Pertama matriks ukuran 10 x 10. Hasil eksekusinya bisa dilihat pada gambar berikut ini.



Terlihat bahwa metode ketiga memiliki waktu eksekusi yang jauh lebih cepat ketimbang dua metode sebelumnya. Hal ini tentu dikarenakan kodrat metode ini yang ditulis langsung dengan bahasa yang terkompilasi. Hasil yang berbeda terlihat ketika matriks yang akan dihitung adalah matriks ukuran 100 x 100, 200 x 200, dan 300 x 300. Perhatikan gambar, gambar berikut.







Terlihat bahwa akurasi pengerjaan metode pertama menjadi berkurang seiring bertambahnya ukuran matriks. Sementara akurasi pengerjaan metode kedua boleh dibilang cukup meyakinkan karena nilainya sama saja dengan  hasil perhitungan metode ketiga dalam tiga gambar tersebut.

Thursday, April 12, 2018

Diskusi Tentang Satelit dan Perputaran Bumi

Sudah menjadi pengetahuan umum bagi kita semua tentang keberadaan satelit yang mengorbit di atas permukaan bumi. Di mana satelit merupakan sebuah alat yang digunakan untuk mentransmisikan sinyal dari satu tempat di permukaan bumi ke berbagai tempat lainnya. Ibaratnya satelit ini merupakan pemantul bagi sinyal yang dipancarkan oleh satu sumber ke banyak penerima. Banyak manfaat yang kita rasakan dalam kehidupan sehari-hari berkat adanya satelit ini. Misalnya siaran TV, atau sambungan telepon jarak jauh, atau penentuan koordinat lokasi berdasarkan GPS (Global Positioning System).

Tuesday, January 2, 2018

Tutorial Least Square Non-Linear Di MATLAB

Dalam tutorial kali ini saya ingin memberikan sedikit pencerahan kepada pembaca tentang teknik least-square yang diberikan di MATLAB (yang untuk kasus saya adalah MATLAB 2009a). Jadi berhubung MATLAB 2009a lisensinya berakhir sekitar oktober 2017 (kendatipun lisensinya juga bajakan), maka saya harus melakukan pengakalan dengan memundurkan jam di komputer saya sehingga lisensinya masih bisa berlaku sampai malam ini (Januari 2018).

Teknik least-square merupakan teknik yang dilakukan untuk mencocokkan kurva. Jadi diasumsikan kurvanya harus tunduk terhadap persamaan tertentu, namun data yang diberikan ternyata berbeda karena memiliki noise dan error. Jadi kita diperintahkan untuk mencari parameter persamaan tersebut yang membuat kurvanya paling bersesuaian dengan datanya. Sehingga dengan diperolehnya nilai persamaan ini, maka dapat digunakan untuk meramalkan berapa nilai-nilai kedepannya tanpa perlu dilakukan pengambilan data secara langsung, atau bisa juga untuk keperluan-keperluan lain. Yang jelas kita membutuhkan nilai parameternya.

Misalkan kita memiliki nilai data curah hujan sepanjang musim yang bersifat periodik. Di mana kadang intensitas hujan ini besar, namun ada kalanya intensitasnya kecil, namun sifatnya periodik. Karena datanya periodik maka persamaan yang berkaitan adalah persamaan yang sifatnya periodik yang dalam hal ini adalah persamaan sinusoidal. Jadi kita ditugaskan mencari koefisien sinusodial yang membuat kurvanya paling mendekati data tersebut.

Misalkan data curah hujan tersebut diberikan oleh plot berikut:
Dengan script MATLAB:
%%
clc; 
d = 0:.01:2*pi;
y = cos(2*d) + .3*randn(size(d));
plot(d,y,'ko')
hold on;
Jadi dalam plot tersebut terlihat bahwa intensitas curah hujannya bersifat periodik. Namun karena adanya error dan faktor-faktor lainnya yang mempengaruhi, maka terdapat penyimpangan data tersebut dari fungsi periodik yang mengaturnya (governing equation) yang dalam ini persamaan $a * cos(2 *\theta)$. Maka kita kemudian dapat melakukan teknik least square, yang dalam hal ini mencari nilai parameter $a$ ini. Sebenarnya MATLAB 2009a sudah menyediakan fungsi yang dimaksud, yang diberikan oleh perintah lsqnonlin sehingga kita tidak perlu lagi melakukan iterasi manual misalnya dengan metode Lavenberg-Marquardt.

Jadi dengan menjalankan script berikut ini, maka kita akan dapat memperoleh nilai parameter $a$ tersebut.
%%
fun = @(r)r*cos(2*d)-y;
x0 = 4;
x = lsqnonlin(fun,x0); 
Sehingga bisa diperoleh plot hasil least-square curve-fittingnya
%%
plot(d, x*cos(2*d) ,'b-', 'linewidth', 3); 
xlabel('t')
ylabel('a*cos(t)') 
Pelajaran yang bisa diambil adalah, MATLAB 2009a ternyata sudah bisa memberikan banyak hal yang tidak terbayangkan oleh kita sebelumnya sehingga membantu kita dalam mengerjakan banyak hal-hal yang istimewa. Adapun source code lengkapnya adalah sebagai berikut:
%%
clc; 
d = 0:.01:2*pi;
y = cos(2*d) + .3*randn(size(d));
plot(d,y,'ko')
hold on;
%%
fun = @(r)r*cos(2*d)-y;
x0 = 4;
x = lsqnonlin(fun,x0); 

%%
plot(d, x*cos(2*d) ,'b-', 'linewidth', 3); 
xlabel('t')
ylabel('a*cos(t)') 

Bukti Bumi Datar: Eksperimen Michelson-Morley

Salah satu eksperimen termutakhir yang bisa disuguhkan ke pembaca yang bisa menjadi bukti penting bagi datarnya bumi adalah eksperimen Michelson-Morley. Tujuan awal eksperimen ini diadakan oleh para ilmuan untuk mendeteksi gerak relatif dari eter terhadap bumi.

Pada waktu itu ilmuan menganggap bahwa cahaya merambat layaknya gelombang-gelombang lainnya yakni membutuhkan medium perambatan. Dan tentu kecepatan cahaya akan dipengaruhi oleh kecepatan medium perambatan tersebut yang diistilahkan sebagai eter. Yang jadi bahan perdebatan pada waktu itu adalah persoalan apakah eter ini diam relatif terhadap bumi ataukah memiliki gerak relatif. Jika eter diam relatif terhadap bumi maka tentu ini disebabkan oleh adanya seretan bumi terhadap eter---analog dengan seretan bumi terhadap atmosfir dalam rotasinya---yang akibatnya maka kita tidak mungkin menjumpai adanya aberasi cahaya-cahaya dari bintang-bintang di kejauhan. Sebaliknya adanya pergerakan relatif eter terhadap bumi akan mengakibatkan adanya aberasi cahaya dari bintang-bintang di kejauhan. Dan fakta inilah yang ingin diuji oleh eksperimen Michelson-Morley: menentukan berapa gerak relatif eter terhadap bumi jika diasumsikan bumi bergerak dalam alam semesta mengelilingi matahari.

Wednesday, December 27, 2017

Polinomial Lagrange Di Matlab

Berikut ini saya berikan contoh curve-fitting dengan menggunakan polinomial Lagrange dalam script MATLAB. Semoga bisa bermanfaat bagi pembaca semua yang memerlukan
function lagrangePolinomial()
clc; 
X =  [7.083 7.167 7.25 7.5] ;  
Y1 = [0.11 0.003 0.009 0.005];
xx = 7.083:.005:7.5; 
m = length(xx); 
for i=1:m 
    k(i) = lagrange(X,Y1, xx(i)); 
end
plot(X,Y1,'or',  'markersize', 6, 'MarkerEdgeColor','k','MarkerFaceColor','r'); 
hold on; 
plot(xx,k, 'b.'); 
hold on; 


function sum = lagrange(A,B, p)
a = length(A); 
sum = 0; 
for i=1:a
    prod = B(i); 
    for j=1:a
        if i~=j
            prod = prod * ( p - A(j))/ (A(i) - A(j) );  
        end
    end
    sum  = sum + prod; 
end

Hasil eksekusinya bisa dilihat pada gambar berikut:

Monday, December 18, 2017

Mendownload Torrent File Dengan Bantuan Tor Browser

Sebenarnya ini merupakan bagian dari sambungan tutorial saya dalam postingan jauh-jauh hari. Seperti kita ketahui dengan adanya pengamanan internet positif maka kita tidak mungkin lagi bisa membuka situs-situs tertentu yang ditandai sebagai daftar hitam oleh internet positif.

Untuk mengakalinya kita bisa menggunakan tor browser. Jadi download saja tor browser dan langsung buka situs thepiratebay dan Anda akan mendapatkan tampilan sebagai berikut:


Jadi tinggal anda cari file yang Anda butuhkan. Misalkan Anda ingin mendownload di top 100 pornografi yang ada di situs ini, yang gambarnya bisa kita lihat:




Copy aja link file yang ingin Anda download, dan tambahkan di mu torrent, maka selanjutnya filenya sudah bisa Anda download. 



Dan selanjutnya Anda tinggal tunggu aja file download nya hingga selesai di download. 



Saturday, December 16, 2017

Kawan Dekat Soekarno dan Nasibnya

Berbicara tentang Soekarno maka hal yang pertama terpikirkan oleh kita adalah karisma beliau sebagai pendiri bangsa. Dalam sejarah telah kita ketahui bahwa Indonesia merdeka di tahun 1945 dengan dibacakannya teks Proklamasi oleh Soekarno dan Mohammad Hatta dan kemerdekaan ini diperoleh setelah melewati proses yang panjang.

Memang tidak bisa dipungkiri bahwa banyak darah yang ditumpahkan hingga tercapai kemerdekaan ini. Pahlawan-pahlawan mati tanpa pernah melihat hasil jerih payahnya. Dalam pikiran mereka hanya terbersit satu semboyan, yakni merdeka atau mati. Namun Soekarno sendiri menyadari seperti yang dituangkan dalam bukunya yang berjudul Sarinah, bahwa kemerdekaan itu tidak mungkin dicapai tanpa melibatkan arus yang berkembang dalam dunia Internasional.

Kemerdekaan Indonesia ini sesungguhnya dimulai oleh gerakan liberalisme yang menyebar di dataran Eropa begitu pecahnya revolusi Perancis. Dan trend liberalisme ini kemudian memberikan sebuah angin segar bagi Indonesia karena Belanda kemudian memberikan kesempatan bagi bangsa Indonesia untuk menyetarakan diri dalam sebuah tatanan  negara demokrasi pada waktu itu misalnya dengan keikutsertaan putra pribumi ke dalam Volksraad atau izin membentuk partai atau organisasi yang bercorak nasionalisme.

Hal ini kemudian terakumulasi dengan pecahnya perang dunia ke II. Belanda harus angkat kaki dari Indonesia karena Jepang datang dengan bala tentaranya bersamaan dengan serangan NAZI Jerman ke jantung ibukota Belanda. Jepang kemudian memberikan pelatihan pelatihan dasar bagi pemuda-pemuda Indonesia dalam bidang militer. Memang sebelumnya beberapa pemuda-pemuda Indonesia sudah diajak bergabung ke dalam tentara kerajaan Belanda (KNIL), namun mereka ini banyakan bukan dari bagian mayoritas penduduk Indonesia yang mengalami ketertindasan, tetapi merupakan bagian dari status quo yang sudah saling terikat lahir batin dengan kerajaan Belanda. Jadi mustahil mereka menggunakan kesempatan yang diberikan oleh Belanda dalam memegang senapan untuk membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan Belanda.

Berbeda halnya dengan datangnya tentara Jepang.  Jepang mengajarkan semangat patriotisme. Bahwa bangsa Asia setara dan tidak pantas dijadikan alas sepatu bangsa Eropa. Dan inipun kemudian memicu beberapa pemberontakan di Indonesia misalnya pemberontakan Suprijadi di Blitar. Sehingga ketika pada akhirnya Jepang kalah perang dan harus meninggalkan Indonesia, kedatangan Belanda sudah tidak lagi disambut hangat seperti sebelumnya. Orang-orang semacam Soeharto dan Kamaruddin yang berasal dari latar belakang petani sudah ditanamkan oleh  Jepang benih kebencian, sehingga senjata  di tangan mereka yang ketika bersama KNIL digunakan untuk menumpas perlawanan Cut Nyak Dien di Aceh kemudian pada masa kedatangan kembali Belanda digunakan untuk menentang Belanda. Dan pecahlah beberapa pertempuran yang mewarnai berbagai pelosok di Nusantara.

Tetapi kendatipun pertempuran yang dilakukan para pemuda Indonesia ini banyak memakan korban jiwa, namun sebenarnya bukanlah pertempuran yang seimbang. Belanda masih begitu dominan dan ini bisa dilihat pada Agresi militer Belanda I dan II di mana bahkan Presiden Soekarno Dan Hatta harus ditahan oleh Belanda. Pertempuran 10 November di kota pahlawan Surabaya hanya memberikan hasil nihil bagi progress kemerdekaan. Setelah bertempur selama seminggu dan digempur habis-habisan di laut, darat, dan udara pemuda-pemuda Indonesia yang dicap teroris itu harus keluar dari Surabaya. Demikian pula Palagan Ambarawa yang memberikan kisah pembantaian yang pahit, karena mustahil lah kita bisa memukul senjata mesin dengan bambu runcing dalam skenario peperangan bagaimanapun juga.

Faktor penentu kemerdekaan Indonesia sebenarnya adalah faktor diplomasi dan trend kemerdekaan itu sendiri. Sekarang ini saja kita tahu bahwa tidak satupun negara di dunia ini yang masih berada di dalam penjajahan. Semua negara bisa dikatakan sudah merdeka. Malaysia saja bisa merdeka tanpa melalui proses yang berdarah-darah demikian pula India dengan Gandhi nya. Faktor penentu kemerdekaan Indonesia sebenarnya adalah lobi-lobi politik yang dilakukan oleh Mohammad Hatta, Syahrir, Amir Syarifuddin, dkk bukan perjuangan Jenderal Soedirman yang masuk hutan naik gunung turun gunung bak anak Pramuka.  Tapi ternyata di kemudian hari justru orang-orang penentu kemerdekaan inilah yang bernasib sial karena tidak memperoleh perlakuan yang layak oleh penguasa pada waktu itu yang dalam hal ini  Presiden Soekarno.

Bagaimana seorang Syahrir yang berjasa melobi PBB ketika terjadi Agresi Militer Belanda yang pertama yang kemudian melahirkan perjanjian Roem-Royen harus bernasib tragis karena menjadi tahanan tanpa diadili. Keterlibatannya dalam pemberontakan PRRI tercium oleh Soekarno dan membubarkan partai Syahrir yakni Partai Sosialis Indonesia (PSI). Penjara yang dingin kemudian menguras kesehatannya sehingga ketika tiga tahun berada dalam penjara Syahrir kemudian harus berobat ke Swiss karena Stroke.  Kawan dekatnya di PSI Sugondo Joyopuspito mengantarkannya ke Bandara Kemayoran dan Syahrir hanya bisa menatapnya dengan penuh air mata.  Tidak ada jalan yang dinamakan dengan Syahrir, layaknya MH Thamrin di Jakarta, sangat bertentangan dengan jasa  Syahrir yang sangat menentukan dalam lobi lobi politik  di PBB.

Orang kedua yang juga jadi penentu bagi kemerdekaan Indonesia adalah  Amir Syarifuddin. Dialah perdana menteri Indonesia yang kedua. Beliau berperan sebagai utusan Indonesia dalam perjanjian Renville. Semasa pendudukan Jepang pun beliau ini kerap merasakan dinginnya penjara karena dituduh terlalu progressif dengan ideologi kirinya. Namun nasib beliau ini juga sama tidak beruntungnya dengan Syahrir. Keterlibatannya dalam pemberontakan PKI di Madiun harus membuatnya bernasib tragis karena ditembak mati tanpa diadili  oleh seorang serdadu TNI berpangkat kopral.

DN Aidit merupakan orang penting yang ketiga. Dia merupakan "anak kesayangan" Soekarno. Sempat digadang-gadang menjadi presiden berikutnya namun karena adanya intrik di belakang layar yang mungkin sudah diketahui sebelumnya oleh Soekarno membuatnya bernasib sial. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa  G30S-PKI merupakan peristiwa yang harus kita kutuk karena memakan banyak korban orang-orang yang berjasa bagi tanah air. Namun yang masih menyisakan pertanyaan di kepala banyak orang adalah mengapa  DN Aidit yang sudah di puncak popularitasnya pada waktu itu harus melakukan blunder sejarah. Mengapa beliau terlalu gegabah untuk mengambil tindakan penculikan tersebut. Apakah gerakan G30S itu merupakan ide beliau sendiri? Faktanya seorang Untung yang tidak lain merupakan perwira menengah  TNI merupakan eksekutor utama peristiwa tersebut. Dan entah bagaimana detail hubungan antara Untung dan DN Aidit yang jelas peristiwa tersebut di mata Soekarno hanyalah percikan buih di tengah lautan.  Untung dan Aidit harus bernasib tragis di ujung peluru eksekutor. Bedanya adalah jika Untung harus diadili terlebih dahulu yang sangat kontras dengan perannya sebagai eksekutor lapangan, namun Aidit didor begitu saja dan dijatuhkan di sumur tua padahal beliau hanya efek samping dari carut marutnya perpolitikan di tanah air pada saat itu. Hingga saat ini jasad Aidit belum ditemukan. Tragisnya peristiwa ini merupakan akhir bagi kekuasaan Presiden Soekarno, tidak seperti apa yang diramalkannya dalam wawancara eksklusif dengan wartawan Cindy Adam.

Orang keempat Adalah Mohammad Hatta.  Berbeda dengan Untung atau Syahrir, nasib beliau ini tidak begitu tragis kendatipun tidak bisa dikatakan mujur. Seperti yang disinggung oleh lagu Iwan Fals hujan air mata dari pelosok negeri.... saat melepas engkau pergi....berjuta kepala tertunduk haru...terlintas nama seorang sahabat... yang tak lepas dari namamu (terbayang gestur bang Iwan yang ogah-ogahan membawakan lagu ini) beliau ini adalah proklamator kedua. Padanyalah negara Indonesia ini dilandaskan, bukan pada Kamarudin atau Jendral Soedirman yang masuk hutan naik turun gunung. Namun yang menjadi soal adalah ketika memasuki fase demokrasi terpimpin, ketidaksukaannya dengan Soekarno dalam menindak pemberontakan PRRI dan kemudian berubahnya haluan politik Indonesia yang cenderung kekiri-kirian membuat beliau kemudian mengundurkan diri dari kursi wakil presiden. Sebagian besar akhir hidupnya dihabiskan di rumah bak pesakitan karena tidak terlibat lagi dalam aktifitas politik apapun.

Orang keempat adalah Alex Kawilarang. Beliau ini adalah bapak pendiri Kopasus. Punya banyak jasa dalam pergerakan kemerdekaan dan penumpasan pemberontakan-pemberontakan separatis di tanah air. Sulawesi tidak akan aman tanpa jasa beliau ini, karena orang-orang semisal Andi Azis dan Kahar Muzakkar yang tidak puas dengan bentuk negara Indonesia harus bertekuk lutuk di kaki beliau. Namun yang jadi masalah adalah karena perseteruannya dengan letnan kolonel Soeharto yang kelak jadi presiden dan lebih dekat dengan Soekarno akhirnya mengantarkan nasib beliau ini ke ambang kepailitan. Tipikalnya yang senang dengan lapangan militer membuatnya frustasi ketika harus dimutasi ke Amerika menjadi duta besar. Ini kemudian dilampiaskannya ketika terjadi peristiwa pemberontakan Permesta di Sulawesi Utara. Beliau kemudian membacakan proklamasi tandingan untuk negara yang hanya sebatas Sulawesi Utara. Akan tetapi karena kurangnya populasi di Sulawesi Utara pada waktu itu yang berimbas dengan sedikitnya jumlah tentara yang dimilikinya membuat nasib beliau ini tragis tidak seperti rekannya letkol Soeharto. Beliau kemudian hanya bisa menghabiskan sisa hidupnya sebagai pesakitan tanpa bisa berbuat apapun untuk kemajuan bangsanya karena semua usaha-usaha yang dilakukannya untuk mendapatkan secuil imbalan atas jasa-jasanya harus diboikot oleh Soeharto.

Orang terkahir dalam daftar ini mungkin Syafruddin Prawiranegara. Mungkin ini bisa dibilang adalah Presiden Indonesia yang kedua setelah Soekarno dan sebelum Soeharto. Beliau memimpin negara Indonesia pada masa pemerintahan darurat yakni ketika Soekarno ditahan oleh Belanda dalam agresi militer I. Keterlibatannya dalam peristiwa PRRI membuatnya dikucilkan dari dunia politik. Beliau menghabiskan masa tuanya sebagai pendakwah karena dilarang terlibat perpolitikan oleh Soekarno. Dan sampai saat inipun kita sama sekali tidak pernah diberi penekanan bahwa beliau ini merupakan Presiden Indonesia yang kedua..




Tuesday, December 12, 2017

Ibukota Israel Dan Revolusi Bar Koba

Dalam catatan sejarah telah disebutkan bahwa yang namanya sebuah negara itu pasti dihuni oleh sebuah bangsa  yang terikat secara kejiwaan dengan negara tersebut. Bagaimana proses panjang yang dilewati oleh bangsa Israel dalam mendiami dataran Palestina bisa dengan mudah kita jumpai dalam berbagai catatan sejarah baik yang terbukti melalui kajian ilmiah maupun yang sebatas pernyataan-pernyataan keagamaan yang dijumpai di berbagai kitab suci agama di dunia (mitologi).

Dalam agama Islam diketahui bahwa dari 25 nabi Allah yang dikirimkan wahyu, ternyata hampir semuanya berasal dari bangsa yahudi yang merupakan penduduk asli dataran Palestina. Kisah-kisah dalam agama nasrani pun ternyata semua bersumber dari kisah tanah Palestina. Bagaimana Yesus dilahirkan di Bethlehem dan kemudian disalib di seputaran Yerussalem (Golgatta). Yahudi sendiri sampai sekarang masih mengimani bahwa Yerussalem merupakan tanah yang dijanjikan Tuhan kepada mereka. Semula mereka berada di Mesir dalam masa kekaisaran Firaun dijadikan budak dalam proyek-proyek pengerjaan bangunan-bangunan batu megah. Datanglah putra terbaik mereka Musa untuk membebaskan mereka menuju tanah Canaan yang pada saat itu didiami oleh beberapa suku bangsa Nomad.  Diawali oleh wabah yang datang berturut-turut yang kesemuanya menyerang Tuhan-tuhan bangsa Mesir akhirnya sampailah proses pembebasan itu dengan menenggelamkan Firaun dan pasukannya di laut merah. Musa kemudian bertemu dengan Tuhan di bukit Sinai dan diberikannya 10 perintah Tuhan yang oleh Musa dipahatkan di batu.

Saturday, December 9, 2017

Catatan Hasil Seleksi Kompetensi Bidang CPNS Periode II Untuk Badan Meteorologi dan Geofisika Tahun 2017

Akhirnya keluar juga pengumuman seleksi CPNS periode kedua tahun 2017. Dan ternyata saya belum beruntung. Dan untuk menjadi seorang yang berhasil maka anda siap siap gagal.

Dalam tulisan ini saya hanya sekedar membagi beberapa pengalaman yang mungkin bisa berguna bagi pembaca sekalian jika nanti dihadapkan pada situasi serupa: yakni menjadi peserta test CPNS untuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). Seperti biasa dalam seleksi CPNS itu ada dua tahap yang harus dilewati sebelum Anda bisa terangkat sebagai PNS yakni tahap pertama adalah Seleksi Kompetensi Dasar (SKD) dan tahap kedua adalah Seleksi Kompetensi Bidang (SKB).

SKD diadakan secara nasional dengan sistem komputerisasi, sementara SKB diadakan secara manual di mana 3 peserta teratas akan diadakan tes tertulis berupa tes psikologi dan disertai dengan wawancara dengan pewawancara dari panitia pusat BMKG.