Saturday, December 24, 2016

Teorema Fundamental Dalam Aritmatika

Teorema fundamental dalam aritmatika merupakan teorema paling dasar dalam aritmatika, dalam artian semua teorema-teorema lain diturunkan dari teorema ini (kira-kira seperti itu).

Ada dua pernyataan yang perlu diklarifikasi dalam Teorema Fundamental Aritmatika ini, pertama eksistensi, dan kedua keunikannya. Pernyataan lengkapnya adalah setiap bilangan bulat lebih dari 1 adalah bilangan prima atau produk dari bilangan prima dan produk ini unik dalam artian untuk sebuah bilangan, maka hanya ada satu cara memfaktorkannya ke dalam bilangan prima.

Misalnya, 1200 hanya bisa dinyatakan ke dalam perkalian 1200=3×2×2×2×2×5×5.

Eksistensi.

Pembuktian ini menggunakan induksi matematika dengan melihat fakta bahwa beberapa bilangan bulat awal dapat difaktorkan ke dalam bilangan prima (misalnya 8=2×2×2, 9=3×3). Anggap bilangan bulat bisa yang bisa difaktorkan ke dalam bilangan prima hanya sampai bilangan bulat n1 yang artinya terdapat bilangan n dan seterusnya ke atas yang tidak memiliki faktor prima. Akan tetapi bilangan n ini tentu merupakan hasil perkalian dari bilangan yang lebih kecil, misalkan n=ab dengan 1<a,b<n. Karena a dan b masih memiliki faktor prima, implikasinya n juga memiliki faktor prima, kontradiksi. Dengan mengulangi langkah ini untuk bilangan yang lebih besar dari n, maka dapat disimpulkan bahwa semua bilangan bulat memiliki faktor prima.

Keunikan.

Euclid Lemma. Jika sebuah bilangan prima p membagi hasil perkalian dua bilangan asli a dan b maka p dapat membagi a atau p dapat juga membagi b. (dalam postingan selanjutnya akan kita buktikan lemma ini)

Anggap bilangan bulat s merupakan produk perkalian dari bilangan prima dengan dua cara yakni s=p1p2pn=q1q2qm
Dengan lemma di atas, maka p1 dapat membagi salah satu dari qj, misalkan p1 dapat membagi q1. Namun, q1 sendiri adalah bilangan prima sehingga hanya bisa dibagi oleh dirinya sendiri dan 1. Dengan demikian q1 tidak lain adalah p1. Kita kemudian dapat menghilangkan p1 dan q1 dari persamaan di atas. Sehingga diperoleh sp1=p2p3pn=q2q3qm
Akan tetapi s/p1 ini lebih kecil dari s, sehingga kita dapat menggunakan prinsip induksi bahwa s merupakan bilangan terkecil yang tidak memiliki faktor prima yang unik. Jadi s/p1 ini memiliki faktor prima yang unik sehingga kedua indeks dalam faktorisasi pada persamaan 2 sama yakni n=m atau bisa dikatakan p2p3pn tidak lain adalah q2q3qm. QED